Sebab Akibat Peserta Didik Berkendaraan ke Sekolah

SEBAB  AKIBAT  PESERTA DIDIK  BERKENDARAAN  KE SEKOLAH
     Oleh  Heni Somilawati

Tahun ini banyak satpam atau penjaga sekolah yang mengeluh. Apa yang mereka keluhkan? Mereka mengeluh atas keamanan kendaraan peserta didik. Satpam atau penjaga  sekolah yang seharusnya menjadi pengaman sekolah justru malah menjadi tumpuan kesalahan peserta didik dikarenakan peserta didik banyak yang mengomel bahkan justru mengatakan hal yang tidak pantas kepada satpam atau penjaga sekolah karena kendaraannya tidak diaamankan.
Kenyataan  yang  tak bisa dipungkiri adalah semakin banyak peserta didik yang memakai kendaraan bermotor ke sekolah sudah bukan pembicaraan lagi karena mereka berkendaraan ke sekolah dengan alasan jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh ditambah lagi dengan tidak adanya kendaraan umum yang bisa mengantarkan mereka sampai ke sekolah karena jalan di daerah atau lokasi sulit dijangkau kendaraan roda empat. Yang menjadi pokok permasalahan dalam hal ini adalah peserta didik SMPN 3 Sukaratu tahun terakhir ini  semakin hari semakin bertambah yang memakai berkendaraan ke sekolah. Hal tersebut adalah masalah yang serius bagi satpam atau penjaga sekolah dan juga peserta didik yang menjadi korban kejahilan temannya, karena ada kalanya orangtua peserta didik pun datang ke sekolah meminta pertanggungjawaban pada satpam atau penjaga sekolah  bahkan kadang kala meminta ganti rugi kepada pihak sekolah.
Berbicara tentang peserta didik SMPN 3 Sukaratu yang dari rumah menuju lokasi sekolahnya melewati jalan sempit berliku, tentu perhatian kita akan tertuju pada hal keamanan dan keselamatan peserta didik bahkan menjadi pemikiran yang serius apalagi bagi seorang satpam atau penjaga sekolah. Baik itu bagi keamanan kendaraannya atau keselamatan peserta didik yang membawanya.Tempat parkir yang tersedia di sekolapun tentunya harus diperluas begitu juga masalah keamanannya. Jangan sampai kejadian yang tak diinginkan ada karena pihak sekolah tak memperhatikan berbagai hal tentang keselamatan dan keamanan peserta didik yang berkendaraan motor ke sekolah.
Sungguh sangat menjadi pemikiran serius ketika beberapa kali terjadi kejadian yang tak diharapkan. Harapan saya semoga hal seperti ini tak terjadi lagi bila pihak sekolah, orang tua peserta didik dan peserta didiknya sendiri diberi peringatan dan pengertian bahwa sekolah membolehkan peserta didik memakai atau membawa kendaraan ke sekolah dengan catatan sekolah tidak akan bertanggungjawab atau mengganti segala kerugian apapun bila terjadi hal yang tidak diharapkan pada kendaraan yang dipakainya. Sekolah hanya mempasilitasi tempat parkir sekemampuan sekolah.
Banyaknya kejadian yang tidak diharapkan atas kendaraan peserta didik yang dipakai atau dibawanya ke sekolah adalah dilema bagi pihak sekolah. Karena jarak sekolah dengan tempat tinggal peserta didik memang adalah masalah yang utama. Bila sekolah melarang peserta didik tentu setiap harinya banyak peserta didik yang tidak masuk dengan alas an kesiangan atau kecapean.
Sekarang ini  peserta didik yang jaraknya dekatpun malah sengaja membawa motor ke sekolah dengan berbagai alasan. Hal tersebut mungkin berdampak kecemburuan bagi peserta didik yang jaraknya jauh sedangkan dirinya berada pada keluarga yang kurang mampu, ikut numpang atau nebeng tidak diajak lalu di sekolah menjaili kendaraan temannya yang tak mengajaknya tersebut. Peserta didik berpura-pura pamit ke belakang ketika jam pelajaran berlangsung padahal dia menjaili kendaraan motor temannya di tempat parkir. Tentu hal tersebut tidak akan diketahui bila peserta didik tersebut melakukannya saat satpam atau penjaga sekolah kelihatan tidak ada atau tidak melihatnya. Akhirnya pihak keamaanan atau penjaga tidak akan menemukan pelakunya bila peserta didik yang punya kendaraan itu mengadukan kerugiannya. Kejadian lain adalah peserta didik yang ngebut diperjalanan sehingga menimbulkan kecelakaan pada dirinya bahkan mencelakakan teman yang diajaknya sehingga orangtua peserta didik mengadukannya ke sekolah. Bahkan ada juga diantaranya laporan dari masyarakat yang datang ke sekolah karena tersenggol peserta didik yang berkendaraan tersebut.
Berkaitan dengan hal tersebut, pihak sekolah tentu harus segera mengambil tindakan yang meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan berkaitan dengan keamanan dan keselamatan peserta didik yang berkendaraan motor ke sekolah. Tindakan tersebut diantaranya dengan mengadakan penyuluhan rutin pada peserta didik bahkan pada orang tua peserta didik terutama mereka yang menggunakan atau memakai kendaraan bermotor ke sekolah. Pihak sekolah harus mengundang pihak kepolisian terutama polentas untuk memberikan arahan-arahan tentang berkendaraan ke sekolah. Pihak sekolahpun harus menegaskan bahwa memperbolehkan peserta didik memakai motor ke sekolah dengan catatan bahwa pihak sekolah tidak akan mengambil resiko apapun atas kejadian-kejadian yang tidak diinginkan berkaitan dengan kendaraan yang dipakai peserta didik ke sekolah.
Permasalahan di atas, ternyata menjadi dilematis bukan hanya pihak sekolah saja melainkan juga pihak polantas berkaitan dengan kondisi kendaraan peserta didik yang dipakai ke sekolah ternyata banyak yang tidak memenuhi aturan kendaraan atau berkendaraan. Dilihat dari usia peserta didik yang belum layak mendapat SIM dan kondisi kendaraan yang tidak ber STNK atau bisa dikatakan kendaraan bodong. Tetapi pihak polantas tentu tidak bisa mengeluarkan ketegasan untuk melarang mereka karena risi akan pendidikan peserta didik yang nantinya tidak tuntas dengan alasan jarak dari rumah ke sekolah yang jauh.
Terlepas dari kedua masalah di atas, tentu kita tidak dapat menafsikan jika jarak bahkan cuaca yang tidak menentu seperti sekarang menjadi hal yang utama akan maraknya peserta didik yang berkendaraan ke sekolah. Namun, hal tersebut jangan dijadikan sebagai sebuah pembenaran dan pemakluman akan banyaknya peserta didik yang berkendaraan ke sekolah yang berakibat pada terjadinya ketidaknyamanan berbagai pihak. Pemerintah yang bertanggung jawab dalam hal ini sekolah dan Polisi Lalu Lintas seharusnya siap dan cekatan dalam menghadapi kondisi seperti ini. Jangan malah kondisi seperti ini dibiarkan berlarut sehingga banyak pihak yang merasa dirugikan.
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa jarak rumah ke sekolah, jalan berliku dan cuaca yang tidak menentu seperti sekarang ini adalah menjadi pemicu utama sehingga peserta didik berkendaraan ke sekolah semakin banyak. Bahkan peserta didik yang dekat jaraknya pun membawa motornya ke sekolah karena ingin menunjukkan pada temannya bahwa dia adalah dari golongan keluarga mampu adalah sebuah kombinasi sempurna untuk menjelaskan berbagai kejadian di sekolah. Dan sudah selayaknya semua pihak yang bertanggung jawab akan hal tersebut bahu-membahu bekerja sama dengan penuh kesadaran agar keselamatan dan kenyamanan di sekolah bisa dirasakan semua pihak.

                                                                                   Sukaratu,  Januari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rohang Buku NEGASU

Ungkapan dalam Tulisan

CIBAI (Cara Inovasi Belajar Aktif Interaktif)